Langsung ke konten utama

Siapa yang sebenarnya lebih berperan dipendidikan karakter?

Membicarakan tentang pendidikan anak tidak ada habisnya, perjalanan ini menemukan saya dengan banyak peristiwa, tidak pernah terkira oleh saya kalau saya menekuni bidang pendidikan. Sejak saya kuliah saya hanya mengenal siswa yang tingkatannya tinggi (SMP-SMA sederejat) awalnya yang bodoh memang malas belajar, dan yang pintar itu serius mau belajar tanpa melihat apa yang melatarbelakangi mereka.

Sejak Magang 3 pada tahun 2016, Qadarullah saya ditempatkan di sekolah pelosok di Bengkulu, di sana hanya sedikit yang bisa dikategorikan "pintar", guru-guru di sana saya sebut darah tinggi semua, sebab jarang sekali saya melihat guru yang tidak teriak-teriak atau yang tidak marah ketika masuk ke dalam kelas. Kedatangan kami membuat guru-guru lumayan ringan, karena kami yang menggantikan mereka masuk kelas. Singkatnya, dalam magang 3 itu saya baru sadar bahwa setiap anak memiliki latar belakang yang berbeda-beda, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang memiliki pengalaman tidak begitu baik, seperti tidak naik kelas, orang tua tidak mampu, broken home, dan mereka rata-rata adalah seorang pekerja, entah itu mencari sendiri atau mengikut orang tuanya.

Mereka memang tidak menceritakan kalo mereka bekerja, beberapa kali anak terlihat oleh saya sedang mengais2 sampah, sedang jadi tukang parkir, ada juga yang mengikuti orang tuanya bekerja sebagai tukang bangunan.

Bermula dari sana saya melihat bahwa anak tidak hanya bisa dititipkan oleh pihak sekolah seutuhnya, tapi ada peran orang tua yang sangat penting.

Dari berbagai pengalaman, ketika masuk dalam kelas saya suka menceritakan bagaimana kasih sayang orang tua, bermacam-macam ekspresi anak, ada yang serius mendengarkan, ada juga yang cuek.

Dari pengalaman saya mengajar, akhirnya saya cukup lama mengajar disebuah sekolah pondok pesantren, banyak sekali yang saya dapatkan dari pengalaman anak-anak. Latar belakang mereka yang berbeda, sama seperti sebelumnya kesukaan saya menceritakan kasih sayang orang tua, hingga dari salah satu anak menjawab "Bagaimana jika kita punya orang tua yang sama sekali tidak peduli?", Mengapa pertanyaan bseperti ini bisa muncul? Sebagai wali kelas kurang lebih saya banyak tahu latar belakang mereka, orang tua Bekerja sebagai apa, curhatan mereka, kadang mendengar dari sisi orang tua juga.

Saya juga cukup berpengalaman dalamengajar private (rumah ke rumah), saya menemukan karakter, potensi anak-anak yang berbeda, (perlu diketahui sejak mengenal manhaj salaf saya jadi menyenangi anak kecil Hehehe) pengalaman mengajar privat ini, menjadi pengalaman saya mengajar anak-anak tingkat bawah. Bukan hanya karakter anak yang saya ketahui, tetapi para orang tua juga, berbeda-beda sekali.

Saya deskripsikan, pada posisi 1 ada orang tua yang rumahnya tergolong mewah bisa kita sebut orang kaya lah ya, dia punya anak yang sebenarnya cerdas dan cepat tanggap, namun ketika belajar dia lebih banyak bermain-main, tidak serius terkadang malah curhat, seketika anak itu keluar sifat manjanya, dan berkata, ibu(bukan panggilan sebenarnya), ibu sini aja, ibu lihatin aku belajar, apa kata ibunya, ibu sibuk, belajarlah sama guru sana, ibu sudah banyak mengeluarkan uang untuk itu. Anaknya terus berkata saya itu tidak suka les kalo bukan ibu marah.

Posisi 2, anak ini tidak begitu pintar, dia banyak memiliki kesulitan dalam belajar, sehingga orang tuanya kebingungan mengajarnya agar dia paham, sebab itulah dia memanggil guru private. Anak ini diam dan tekun, dia sangat memperhatikan apa yang saya jelaskan, hingga dia menjadi ahli menghitung. Ketika ibunya pulang, anaknya berkata "ibuu (bkn pnggiln sebenarnya)" lalu ibunya menjawab "nah gimana, udah bisa?" Lemah lembut, anak ini juga suka bercerita bagaimana ibunya suka bermain dengan dia, saling bercanda, saling beri hadiah. Anak ini ketika saya datang selalu berkata "ayo kita les".

Kedua anak ini umurnya tidak jauh berbeda, dan sama-sama masih duduk di SD. Lalu apa yang dapat dipetik oleh berbagai peristiwa tersebut?

Intelektual itu bisa saja diajarkan orang lain yang lebih ahli, namun pendidikan karakter itu dasarnya ada pada orang tua, orang-orang yang ada di rumah. Anak bisa serius belajar, bisa tekun, bisa bersikap baik faktor terbesarnya adalah pendidikan karakter di rumah.
Anak kecil (SD ke bawah) yang mereka butuhkan adalah kasih sayang, motivasi, contoh langsung dari orang tua dan perhatian orang tua, bukan orang lain, ketika mereka beranjak dewasa yang mereka butuhkan adalah kepercayaan orang tua, mereka ingin dipercaya bahwa mereka mampu dan bisa.

Terkadang kita memikirkan mencari uang untuk masa depan anak, hingga apa yang paling dibutuhkan oleh anak itu terlupakan. Uang hanya salah satu untuk memelancarkan proses pendidikan "hanya salah satu" namun yang terpenting adalah pembentukan karakter yang dibangun oleh orang tua masing-masing.

Kita ingin anak kita tidak teriak-teriak, tapi kita tegur mereka dengan teriak-teriak, kita ingin anak kita stop main HP dan ingin mereka membaca buku pelajaran, sedangkan kita sibuk main HP dan melupakan buku, kita ingin anak Soleh/Soleha tapi kita sendiri enggan shalat, contoh seperti apa yang akan kita beri?

Ketika anak masih kecil, kita sibuk mencari uang sehingga lupa perhatian terhadap anak dengan embel-embel saya kerjakan untuk anak juga, bayangkan jika masa tua kita nanti, ketika anak telah dewasa hanya sibuk mencari uang tanpa memperhatikan kita, dan berkata sayakan cari uang untuk ibu/ayah juga kan.
Apakah kamu yakin kamu dapat diurus dengan uang?



Ini hanya tulisan seorang yang insyaallah akan menikah juga dan punya anak, yang masih tengah belajar arti pendidikan sebenarnya. Banyak kutip-kutipan yang ingin saya tampilkan, agar lebih ilmiah, namun karena nulisnya d gawai jadi agak malas hehehe semoga nanti bisa nulis lebih ilmiah hehe. Anda bisa setuju atau tidak pada argumen ini, saya sangat membuka sesi diskusi terarah tentang pendidikan anak.


Menulis
Di Arga Makmur

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Pembawa Amal Jariyyah atau Dosa Jariyyah?

بسم اﷲ, Kita tahu bahwa guru melahirkan profesi-profesi lainnya. Dalam dunia pendidikan formal, guru menjadi suatu sumber daya manusia yang sangat dibutuhkan. Katanya, menjadi guru bisa mendapatkan amal jariyyah, benarkah? Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak shalih yang selalu didoakan orang tuanya.” (HR. Muslim) Yang dimaksud dalam hadits adalah tiga amalan yang tidak terputus pahalanya: Sedekah jariyah, seperti membangun masjid, menggali sumur, mencetak buku yang bermanfaat serta berbagai macam wakaf yang dimanfaatkan dalam ibadah. Ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu syar’i (ilmu agama) yang ia ajarkan pada oran...

YANG NGAKU SUNNAH KOK NGGAK MAU DIAJAK DISKUSI SAMA YANG DI CAP AHLI BIDAH?

Bismillahirahmanirrahim. Pernah nggak sih dengar ustad kondang ngomong "itu ustad yang ngaku sunnah, jangankan gurunya, muridnya aja nggk mau di ajak diskusi bareng" aku cuma mau jawab "ya iyalah, gurunya aja nggak mau diajak debat, yang ilmunya sudah tinggi, pemahaman hadis, hapalannya, apalagi muridnya, yang ilmunya belum seberapa dibandingkan gurunya" kenapa demikian? Mengalah dari debat kusir, karena “ kita tidak akan bisa menang debat melawan orang yang bodoh dan tidak beradab “. Mengalah dalam debat, sebagaimana sebuah ungkapan: وما جادلني جاهلٌ إلا وغلبني “Tidaklah aku mendebat orang bodoh, pasti aku akan kalah” Berdebat (apalagi di media sosial) menimbulkan banyak kerugian: Pertama,  Membuang-buang waktu yang berharga Waktu kita akan habis untuk berdebat kusir yang terkadang tidak ada ujungnya. Kedua,  Mengeraskan hati karena sering sakit hati dan berniat membalas. Padahal tujuan dakwah adalah menasihati dan yang namanya nasihat itu m...

Radikal atau teroris?

Radikal atau teroris? Akhir akhir ini kita sering menemukan kata-kata "eh dasar radikal" yang lebih ditujukan ke agama, lalu disanding-sandingkan dengan teroris, jadi kalo radikal ujung-ujungnya nanti teroris. Nah, untuk masyarakat Indonesia, yuk belajar Bahasa Indonesia dulu, biar enggak asal-asalan ngomong. Betapa pentingnya mengetahui makna dalam beretorika. Masih tersinggungkah kamu jika dibilang radikal terhadap agama? apa itu radikal? lalu?apa hubungannya?  dilihat dari KBBI V  arti Radikal yang dapat disimpulkan adalah mempelajari suatu hal secara mendasar sampai menjadi prinsip, menuntut perubahan, maju dalam berpikir dan bertindak. lalu apa yang salah jika kamu radikal terhadap agama? saya rasa yang mengatakan radikal adalah kata negatif, belum begitu paham akan identitas negaranya sendiri, dan itu saya yakin bukan anda yang membaca tulisan ini. jadi, ketika kamu di katakan "radikal amat sih" itu adalah sebuah pujian yang sangat baik bukan? terlebih-le...